DAGO BARAT

saya merasa dari dago barat perubahan itu dimulai…

Untuk lebih baik

Tak baik berbaik sangka terus. Buruk sangka terus juga nggak baik. Harus waspada kepada orang lain, termasuk padaku. Sekali-sekali empati dan simpati pada orang. Namun kalau keterusan menaruh empati dan simpati, kadang kita lupa diri. Ini celaka namanya.
Tujuan baik, tak selamanya harus menyetujui dan mengijinkan. Menolak dengan niatan baik, jauh lebih baik. Ada banyak hal yang sama sekali tak pernah aku respon. Kalau sudah begitu, aku sudah tak peduli lagi dengan respon apapun, melainkan mengevaluasi hasilnya dari sikapku itu. Dan hasilnya banyak baiknya.
Kalau saja mau sedikit meluang waktu untuk merenung atau bertafakur, tentu maksudku nyaris selalu baik. Selalu ada visi dalam setiap sikap. Ini tentu perlu diuji terlebih dulu. Kamu bisa mulai menguji kata-kataku itu. Sekarang!.
Dalam hati kecil, tepatnya nurani kadang merasa kasihan memperlakukanmu seperti itu. Tapi, mau tidak mau harus kulakukan.
Sekalipun tidak pernah suka dengan perjuangan seperti ini: susah payah, berkeringat, marah, tapi ini jalanku. Selalu begitu. Tak bisa langsung sesuai keiinginan. Ada saja kurangnya: bisa sikap, bisa hal lain yang memang sangat perlu untuk ditata.
Hanya niatan karena Allah yang akan menyambungkannya. Wallahu a’lam. (*)

Filed under: refleksi

karena senyumu

Semuanya nyaris tak penting lagi, manakala senyumannya mengilang. Hilang karena harapannya kandas, buah kemiringan tingkah laku ini.
Perasaan bersalah yang terus menghantui, tentu bukanlah obat untuk kembali mendatangkan senyumannya. Yang ada hanya tanya, kenapa jadi begini?. Jawaban itu kerap kudapati di atas bantal dan sajadah. Atau tak jarang ketika sedang di toilet. Namun jawaban itu, tak juga mampu mengalahkan kemiringan tingkah laku ini. Lantas kurang apalagi, kasih sayangMu itu padaku. Semuanya telah Engkau berikan sesuai kapasitasku mengiringi konteks.
Karena itu semua, rasanya pengen menjerit di alam terbuka. Lalu semua benda di sekelilingku menghampiri dan bertanya padaku, atas masalah yang menerpaku. Mereka tersenyum, sembari menenangkan jiwaku yang goncang.
Lalu, aku akan pergi ke saung yang ada pancuran berair jernih.Lantas kubasuh mukaku, abdas, diakhiri sujud. Aku akan mengadu pada mereka yang selamanya tak pernah bersalah tingkah. Dan selalu manut sama sabda sang pembuat alam.
Pokoknya senyumannya harus senantiasa mengembang. Dadanya dipenuhi rasa haru yang begitu kuat, dan karenanya khidmat selalu menemani hayatnya.
Apapun yang baik, untuk itu akan kulakukan, karena tawanya lebih mahal ketimbang dunia ini. Dia adalah pelita hidupku, sekaligus pemegang kunci istana di surga sana. Kunci itu hanya akan kuraih, manakala senyumannya terus mengembang. Bibirnya selalu basah,karena selalu bermunajat pada pemilik alam ini. (*)

Filed under: refleksi

omong kosong

Iya…aku mengerti itu…Paling tidak mencoba mengertilah. Rasa-rasanya tak mungkin, walaupun banyak tanda mengemuka. Kataku, itu hanya omong kosong. Tak ada makna, kecuali ilusi sesaat- yang menghantui. Bagaimanapun itu pernah terjadi..Apapun, siapapun nggak bisa meniadakannya atau menghapus. “Kuburlah”, itu hanya omong kosong. Sampai kiamat sekalipun tetap saja tak terkubur, kecuali merasakan sisanya: antara senang dan tidak, antara senang dan benci, antara tawa dan tangis.
Menghilang bagai ditelan bumi. Ada banyak sangka akan itu. Namun tak bisa berlebihan, toh mengetahui pastinya kan ngga. Entah apa maksudnya,berlaku demikian. Khusnuzon: itu yang terpenting.
Aku merasa perlu untuk bicara, walau entah kapan terbaca, termaknai, dan terpahami. Waktu telah mengajariku untuk dapat membuka tabir yang gelap itu. Motivnya, mungkin hanya kondisi-brontak atau merasa rendah diri- yang mendominasi. Dalam kondisi yang demikian, ibrat kata  tak ada rotan akarpun jadi. Rotankah atau akarkah aku ini? hanya yang merasa yang tahu.
Terlepas semuanya, maafkalah…

Filed under: Tidak terkategori

teteh…

Selalu saja nggak mau beresiko. Halah..masa terus begitu? teteh teteh…kamu teh mani suka keras kepala begitu.  Begini ajah atuh, tak usah lompat begitu kencang sebagaimana aku mintakan, tapi melompatlah pelan tapi kontinyu. gimana? mau kan seperti itu?. Lagian itu bukan untuk siapa-siapa, melainkan untukmu juga.
Atau mungkin, pepatahku terlalu sulit dimengerti? . Cape deh, kalau memang begitu. Mungkin aku harus belajar lagi, gimana mempersuasi orang ya…
Entahlah, mana yang benar, aku atah tetah, biarlah itu berjalan saja, sampe jawabannya ketemu. Hanya saja, pesanku, buka dan terus buka pikiran itu, sampai masuk ke wilayah kepahaman. Agar main kita jadi terang benderang kitu tah teteh…
Jadilan lentur, bukan keras..biar tak patah-patah. Karena patah, menyakitkan pastinya. Oke nDA….!!

Filed under: refleksi

kurang lebih seperti…

Tak muluk-muluk mauku. Biasa aja,sebagaimana umumnya. Kalimat ini benar-benar merasuki jiwaku, setelah belajar kehidupan selama 25 tahun lamanya.  Ternyata hidup itu ada fasenya, dan tak ada yang paling indah kecuali berjalan difase semestinya. Setidaknya itulah pikirku saat ini.
Mauku itu kenyamanan.  Bisa nyaman tentu tak melulu kasat mata ukurannya, kehidmatan berhubungan, kedewasaan, kesamaan visi misi barangkali itulah yang paling utama. Artinya, aku tak lagi mencari sestau di batas kemampuan.
Sekalipun kerap kali-dulu- aku selalu berujar, tak mungkin aku melakukan sesuatu yang batinku tak sreg atas sesuatu itu. Tapi, itu dulu. Kini ceritanya jadi lain, lebih menyandarkan pada rasio. Mau tak mau, suka tak suka, jika itu memang terbaik untukku ya harus diambil, dijalankan dan disyukuri. Itu saja beres!. Read the rest of this entry »

Filed under: refleksi

Itu itu lagi…

Aku lupa, waktu itu sudah lama .  Tapi, soal lama dan tidak memang tergantung dikontruksikannya. Dan meninggalkankuaku termasuk yang mengkontruksikan sebentar, alih-alih berharap akan hal yang tak pasti. Ya, sama sekali hanya halusinasi, masa itu, yakni masa dimana segalanya indah dirasa. Indah, karena sebelumnya rasa itu kacau balau, cemas, dan frustasi berat. Untung masih sadar.
Aku selalu merindukan masa itu datang kembali. Aku tak pernah akan mengulangi kesalahan yang menyebabkan rasa ini menderita, akut. Bukan tanpa alasan, toh kalau saja kala itu ada keberanian untuk bahagia atau mati, mungkin ceritanya tidak akan seperti saat ini. Berharap yang tak pasti. Read the rest of this entry »

Filed under: Tidak terkategori

bukan aku dan kau tapi kita

Dari banyak hal yang sudah menerpa kita, akhirnya merujuk pada kesimpulan minor.Selama ini keegoisan itu, selalu tampak ada padamu. Namun, itu salah, ternyata kebalikannya. Kusadari, pemaksaan sebuah karakter baru, selalu dihembuskan. Mungkin kau merasa jemu, karena itu sejatinya bukan kamu. Di banyak kesempatan, kau katakan, hanya bisa hidup menjadi dirimu sendiri. Tak layak untuk untuk dibandingkan dengan siapapun, terlebih dengan orang-orang yang sempat mengisi kehidupanku. Kau memang bukan dirinya. Rentang usia kita, bukan alasan untuk selalu dibwa ke permukaan. Tapi, kalau fakta ini disikapi dengan penuh rasa syukur, tentu membuahkn rahmat bagi kita. Wah..tetah, lebih baik kita jalani dengan penuh kesungguhan. Ibadah harus selalu melandasi perjalanan itu, mengingat, kita ini lemah. Read the rest of this entry »

Filed under: refleksi

persimpangan jalan…

Duh..Gustiiii...tulung tulung.....

Duh..Gustiiii...tulung tulung.....

Ketika pertama kali bertemu, aku tak sanggup melihat wajah yang tertunduk malu-malu. Aku membiarkannya, begitu teman teman menghampiri dan mengajak duduk di teras kantor. Dalam gumam, hatiku berkata, siapa gerangan sosok dia yang baru kulihat itu? Dia telah membuatku tertegun memendam asa. Seiring perjalanan waktu, asa itu kian memenuhi relung hatiku. Aku tak tahan dibuatnya. Terlebih ketika kau dengan penuh hati-hati mengiyakan asa itu. Lengkaplah rasa itu. Kita menjadi satu untuk sebuah harapan baru. Segala perhatianmu, adalah api pembakar semangat hidupku. Senyummu adalah oase penyejuk hatiku. Dibanyak kesempatan, kau katakan, aku seorang jagoan yang akan menjagamu dari segala ancaman. Kau tak ragu untuk mengatakan jika aku adalah teman kenyamanan hidupmu. Read the rest of this entry »

Filed under: refleksi ,

Dirimu tahu?

dirimuLove is that condition in which the happiness of another person is essential to your own…

Filed under: refleksi

Wagub Jabar, Dede Yusuf, Pencetus Film Bandung Lautan Api (2-habis)

Sowan ke Pelaku BLA, Masih Bingung tentang Format Film

dede-yusuf_f_695_f_337FILM Bandung Lautan Api (BLA) yang rencananya diproduksi tahun ini masih belum sampai pada penetuan format. Apakah menjadi film dokumenter yang merepresentasikan semangat juang warga Bandung, komersial, atau dokumenter yang komersial.

Memproduksi sebuah film tentunya bukanlah pekerjaan yang gampang. Terlebih jika film tersebut mengambil latar sejarah perjuangan bangsa. Salah-salah menggambarkan sejarah masa lampau, bisa menyesatkan persepsi masyarakat tentang kejadian yang sebenarnya di kala itu. Kemungkinan lainnya bisa saja digugat atau diprotes pihak yang merasa dirugikan karena jalan ceritanya yang parsial. Read the rest of this entry »

Filed under: feature

Langkahku adalah harapan, pantang putus asa, karena asa darah Illahi. Hatiku adalah pelabuhan rasa, dimana berada disana berkata. Jiwaku adalah penyangga waktu agar hidmat saat lambat dan cermat disaat cepat. Menunggu adalah istirahat sejenak agar kembali kuat menapaki perjalanan sang waktu, hingga ruh-ku di panggil Illahi

anda pengunjung ke

Komentar Terakhir

gunawan di Thank you Agah…
uwa di bio::
dea di bio::
Intan di bio::
Ibro di dy ::

Email Subscription

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.