SAYA nggak tahu bagaimana tepatnya melukiskan perasaan batin saat ini. Dihadapkan pada dua pilihan yang bobotnya sama berartinya bagi saya. Saya sedih, tapi tidak boleh sedih itu hinggap, meski itu alakadarnya. Saya nggak suka, kalau diri ini sedih oleh hal duniawi, terlebih setelah membaca buku Laa Tahzan.
Setiap manusia kadang dihinggapi rasa sedih, saya manusia, jadi saya suka sedih. Alah siah.. bawa-bawa presmis segala. Lah, kan saya manusia, sama seperti Anda yang lagi membaca tulisan ini.
Adalah sesaat setelah saya menghadap pelaksana direksi perusahaan yang selama ini mempekerjakan saya. Tepatnya, Rabu (31/10), sekitar pukul 15.00, saya menghadap bos saya itu, yang duduk di ruang tamu kantor. Saat itu, saya hendak menanyakan, prihal penugasan di Sumedang. Saya butuh penjelasan dia, mengenai fasilitas yang disediakan kantor di tempat baru itu. Dan untuk diketahui, saya sudah pulang pergi ke Sumedang selama seminggu sebelumnya. Selama masa penjajagan itu, saya tidak mendapatkan apapun, kecuali perintah datang ke Sumedang. Sadar sebagai seorang wartawan, saya tidak ngeluh, meski sejujurnya, nurani nangis. ”Ya Allah kok gini ya..,?. Dalam gumam tentunya.
Dalam seminggu itu, saya sudah berkenalan dengan beberapa teman di Sumedang; penjaga rental komputer, penjaga warnet, anak sekolah, polisi, pejabat, politisi, dan tentunya dengan di teteh yang baik banget. Si tetah ini adalah sosok periang yang mengantarkan saya melihat beberapa tempat kost. Saking baiknya, saya sempat ikut numpang abdas di rumahnya. Tak hanya itu, di hari ke tiga kedatangan di Sumedang, saya menitipkan beberapa potong pakaian, Alquran, sejadah di rumahnya.
Kembali ke masalah di atas. Kepada bos, saya sampaikan beberapa tempat kos yang sudah saya datangi. Dia menanggapinya dingin, sesekali nada bicaranya meninggi, khas dia. Khas orang Jasinga Bogor kali ya…Saya tak asing dengan sikap seperti itu. Enjoy aja..
Selain melaporkan soal kos dan fasilitas lain seperti kamera, internet dan lainnya, curhat juga soal kuliah pascasarjana saya di Unpad. Kata saya, bos, gimana kalau di Sumedang itu, dua orang saja, biar kalau ada apa-apa bisa terhandel. Dan juga, kalau saya hendak kuliah, sehari dalam seminggu, tak jadi soal. Apa yang saya utarakan itu, wajar, sopan dan etis. Kalaupun saya minta waktu sehari untuk kuliah, tentu tidak luar biasa, bukan juga menunjukan diri ini superior, anak emas, merasa paling dibutuhkan and bla..bla…Ini mutlak soal kebutuhan. Bahkan sebagai kewajiban dan tanggungjawab saya kepada diri, keluarga, pacar juga Yang Maha Kuasa.
Rekasi bos, sok jaim gitu. Lantas menceramahi saya. Kurang lebih begini, ”Saya sudah mengetahui persoalan Anda yang kulaih S2. Hanya saja saya tahunya dari orang lain. Kenpa Anda tidak langsung bicara kepada saya saja. Saya heran kenapa anak-anak sok segan kalau bicara kepada saya? Padahal saya ini tidak berpenampilan mentereng ala bos di lain tempat. Saya ini sengaja begini, agar kalian merasa dekat. Saya tinggal di kantor bukan apa-apa, semata untuk menyatu dengan kalian”.
Memang saya tidak langsung membicarakan sekolah saya ke dia, karena saya tahu dalam aturan organisasi positivisme, ada tahapan-tahapan yang mesti dilalui. Gila aja, kalau harus membicarakan soal itu ke dia, yang pimpinan top di perusahaan. Dalam beberapa kesempatan, saya sudah bercerita kepada pelaksana redaksi, koordinator liputan. Setahu saya, mereka itulah yang lebih tepat menyampaikan masalah saya ke bos. Selanjutnya saya dengar jawaban bos itu lewat salah seorang dari mereka.
Semoga tidak diartikan sombong, sewaktu kulaih S1, saya adalah ketua BEM dan dua tahun menjadi ketua pelaksana Ospek dengan jumlah mahasiswa ribuan, kalau tak salah dalam dua tahun itu sekitar lima ribuan orang saya pimpin. Di Himpunan Mahasiswa (Hima) saya dipercaya jadi penasehat, setelah sebelumnya mejadi salah seorang seksi Hima.
Tamat kulaih, saya dipercaya jadi ketua Alumi Ilmu Komunikasi untuk masa jabatan, empat tahun. Sampai kini juga masih jadi ketua. Sewaktu di pesantren, dipercaya untuk menjadi rois (lazim disebut lurah di pesantren salafiyah, pen). Di organisasi kewartawanan, saya dipercaya untuk menjadi ketua Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Jawa Barat, meskipun hingga tulisan ini dibuat saya belum dilantik. Beradasarkan informasi dari Jakarta, akan ada pertemuan pertengahan November ini. Allahu a’lam. Astagfirullah…
Namun semua pengalaman itu, tampaknya kurang berarti di dunia kerja yang saya masuki, 2,5 tahun lalu ini.
Kata bos, di perusahaan media, wabilkhiusus di Jawa Pos Grup, seorang wartawan tidak diperkenankan untuk mengambil S2. Alasannya, akan menghambat kinerja. Asumsi dia, bahwa seorang wartawan atau redaktur yang kulaih lagi, pikirannya akan terpecah. Bukannya ngurusin bagaimana koran besok menjadi lebih baik, melainkan mengerjakan tugas kuliah. Selain itu, kalau ada karyawan yang mengambil S2 diasumsikan, telah punya rencana lain, selain di perusahaan tersebut. Mungkin pendek kata, saya bisa saja merencakan, akan masuk kerja di perusahaan lain.
Ya Allah kok jalan pikirannya seperti itu? Allahu a’lam.
Simpulan pembicaraan itu, dia minta saya untuk memilih satu di antara dua pilihan. Pertama, saya tetap gabung di perusahaan, kedua, saya memilih melanjutkan kuliah. Ya Allah, kok begini, bukannya sejak awal niatan saya karena engkau? Allahu a’lam.
Dia juga bilang begini, ”Wa saya percaya, kamu ini seorang santri, istikharahlah, mana yang lebih baik, masih di sini atau kuliah lagi?” ujarnya bijak.
Saya jawab,” Tenang bos, saya pasti bersikap, saya tahu apa yang harus saya ambil,” jawab saya singkat.
Berakhirlah pembicaraan saya dengannya.
Selanjutnya, saya pulang ke kosan. Sepanjang jalan, di kamar, saya muter otak, keputusan apa yang paling berkah saya ambil. Keluar kerja, atau terus kulaih. Dominannya, ya tentu kulaih lah..Rugi dong harus keluar kuliah, sementara belasan juta sudah saya bayarkan ke kampus. Lantas bagaimana kalau sayau nggak kerja, darimana saya dapatkan uang. Sekedar tahu saja, mempunyai utang ke beberapa orang, kreditan, bagaimana sayua bisa membayar semua itu?. Kosan saya sudah habis, duit habis, bagaimana saya harus kos lagi. Yang gilanya, lebih dari sparo barang-barang sudah dikeluarkan. Sebagaian dititip di kantor, sebagian di kosan adik, sebagian di si teteh di Sumedang. Malah ada beberapa peralatan, sudah saya berikan kepada kawan dan sudara. Televisi sudah di gadaikan ke teman kantor, demikian juga komputer. Yang ada tinggal radio tave saja. Saya merasa perlu dengan radio, untuk mendengarkan, siaran BBC London yang direlay Elshinta FM. Suara merdu, lugas para newsreader BBC mampu menyegarkan otak saya, hampir saban subuh. Itu saja yang saya pertahankan. Memang perlu banget.
Bagiaman dengan orang tua saya, bagaimana dengan pacar saya, bagaimana dengan rencana merried di tahun 2008? Allahu a’lam.
Dalam gundah, saya yakin, bahkan hakkulyakin, apapun yang saya ambil, pasti itu terbaik dari Allah untuk saya. Toh milih salah satu dari dua pilihan berat itu, sama sekali tidak menyalahi bahasa syariat. Allahu a’lam.
Saya teringat dan terpahat dalam hati, apa yang saya dapatkan dari guru di pesantren. Dalam kitab al hikam, Allah pasti memberikan jalan kepada umatnya yang berserah padaNya. Orang yang berserah diistimewakan olehNya. Dalam salah satu ayat surah alanam, bahwsannya jika rahmat dan pertolongan Allah sudah ada, maka tak satupun mahlukNya bisa menghalangi. Subhannallah.
Dalam do’a yang dipanjatkan, saya ngemis, Allah memberikan kemudahan agar bisa masih kerja di sana, sambil kuliah, atau kerja di tempat lain sambil kuliah, atau membuka usaha sendiri. Lah, dari mana modalnya? Allahu a’lam.
Dengan biikhlasin niyah, saya akan melanjutkan pendidikan saya. Ya Allah, saya iklas menerima semuanya, engkau tak memberikan cobaan, kecuali saya dimampukan untuk mengatasi cobaan itu. Telah engkau anugerahkan kesehatan, kecerdasan, karena itu, karuniakan juga semangat untuk memaksimalkan amah engkau itu. Terimakasih ya..rob..
Allahu a’lam bissawab.
Terimakasih bos, terimakasih kawan-kawan atas segala hal yang baik atau dianggap baik, dan maafkan atas segala khilaf atau yang dianggap khilaf.
Kullu am wan antum bikhoir..
Umar Wiria Aditama

WordPress berkata,
November 3, 2007 pada 11:33 pm
Hai, ini adalah komentar,
Untuk menghapus komentar, silakan login dan lihat komentar pada postingan, disitu Anda dapat mengedit atau menghapusnya.
hendra berkata,
November 4, 2007 pada 8:56 am
saya simpati dengan anda, semoga allah memberikan kemudahan untuk anda. amin
aiai berkata,
Desember 30, 2007 pada 4:27 pm
sing sabar aja …toh semuanya sudah ada yang ngatur..
Yadi berkata,
Januari 21, 2008 pada 7:29 am
keluar kerja itu biasa kang, jadi menurut hemat saya, persoalan ini jangan ampe di dramatisir segala, malah nanti jadi betes sendiri. uwa tetap yang terbaik kok, yang saya kenal selama ini.