Aku masih di sini, masih seperti yang dulu, masih mencintaimu. Mencintai yang sepenuh hati, tak banyak tuntutan, apa adanya. Ya, cinta memang begitu fitrahnya, tidak menutut, dan hadir tanpa diundang.
Namun setiap cerita harus diakhiri, karena ini adalah sunatulloh. Cinta yang ada itu juga harus diakhiri. Pikiran dan perasaaku dipaksa untuk meningalkan segalanya tentangmu. neng..neng…
Aku harus berjalan, bangkit menuju kemenangan. Yang kalau saja diam, aku menyesal sampai akhir hayat. Aku tak mau itu. Aku mau bahagia dengan jalanku, dengan jalan yang tidak bertentangan dengan syariat agama yang aku anut.
Memang setiap jalan ditentukan dengan cara yang berbeda. Karenanya aku tak harus seperti orang lain. Berusaha mati-matian untuk mendapatkan apa yang mereka dapatkan, termasuk soal cinta.
Cintaku harus diraih dengan jalan yang berbeda. Inilah yang akan aku ambil saat ini. Saat dimana aku merasa wajib mendapatkannya.
Soal kamu, ya, meskipun dalam beberapa malam selalu hadir dimimpiku, aku yakin itu hanya godaan saja. Aku tak mau tertipu lagi. Berjuang untuk hal yang tak jelas ujung pangkalnya. Ah, tapi aku juga tidak menyesal dengan semua itu. Itu masa laluku. Dan semua orang punya masa lalu.
Masih soal kamu, maaf saja, kalau segala tentang kamu aku hilangkan. Foto-fotomu, surat-suratmu aku hilangkan. Segala arsif tentangmu ku buang. Maaf yah..Kamu sih nggak ngasih kabar barang sedikitpun. Parah….
Namun beberapa waktu lalu, saat aku membereskan kamar, kudapati kertas bekas bungkus rokok yang sudah kumal, terselip di antara arsif sekolahku. Aku langsung mengambilnya. Ternyata itu punya kamu, yang saat kami tidak berHP, kamu salin beberapa nomor ke kertas itu. Aku lupa, saat kamu pulang untuk selamanya, kertas itu terbawa pulang. Maunya sih semua barang-barang itu aku serahkan padamu. Harus kuakui, benda-benda itu menjadi virus dikemudian hari.
Saat aku membaca kertas lecek itu, hatiku miris. Aku jadi ingat penulisnya. Sampai-sampai aku membayangkannya, saat kertas itu ditunjukan kali pertama. Sampai dimasukan ke dalam tas tangan yang lembut, yang kalah dibawa, tampak seperti tas kamera pocket. Dan dulu, aku pernah membawa tas kecil itu.
Aku sadar, semua itu harus diakhiri. Ngapain juga mikirin kamu yang sudah pergi untuk selamanya. Mendoakanmu jauh lebih baik, dari sekedar memikirkannya. Mengingat-ngingat semua tempat. Wuih…..sungguh tidak baik untuk jalanku.
Aku melangkah maju. Ukurannya apa? Aku belum tahu persis. Namun paling tidak, aku berani mengambil sebuah jalan untuk kehidupan. Kehidupan yang maslahat dunia akhirat. Aku akan menjemput cinta itu, dan berbuat untuk sebuah cinta yang bertanggungjawab. Sekalipun begitu, aku tetap di sini, hidup dengan penuh cinta, karena aku lahir untuk cinta. **

thelia27 berkata,
November 27, 2008 pada 8:41 am
Hmmm….
Mas, kadang aku kasian pada cinta…
Betapa hampir semua noda hitam perbuatan nafsu, selalu cinta yang disalahkan…
Bukankah karena cinta segalanya bisa abadi….???
hallouwa berkata,
November 27, 2008 pada 1:58 pm
emang…Tapi, tetap aku mau cinta. kemana atuh cinta…
iwong berkata,
Juli 8, 2009 pada 3:38 am
aku masih di sini…..bagus banget bahasanya..
aku mempunya asa yang sama denganmu bung uwa…salam kenal aja..