ENTAH karena pengaruh Hegemoni penyetaraan jender atau karena kebutuhan hidup, banyak kaum perempuan ‘perkasa’ mengambil peran kaum laki-laki. Dari mulai jabatan strategis, hingga kerja serabutan selalu ada peran mereka di sana.
——————————————————————————-

Ida Nurnaningsih, 38, seorang tukang parkir di Cikapundung foto by olih solihin
Bagi Anda yang pernah memarkir kendaraan di area parkir Cikapundung – Tempat distribusi Koran dan majalah- tentu sering bertemu sosok tukang parkir perempuan. Sosok perempuan ‘maskulin’ ini pasti selalu dijumpai di sana, maklum sejak pagi hingga sore hari sudah nyanggong si sana.
Sosok tersebut adalah Ida Nurnaningsih ,38, yang mengaku sudah terjun di sana sejak tujuh tahun silam. Terjun ke parkiran, di bawa sang suami Johar yang kebetulan bekerja di area terminal Koran tersebut.
Dua hari lalu, saya menemuinya di lokasi. Saat memarkir kendararaan, ibu empat anak ini tampak beda dengan tukang parkir lainnya, yang moyoritas laki-laki. Bedanya, lebih ramah, khas kaum perempuan. Sejurus kemudian, saya memberitahukan kabar kedatangan ke sana. “Jadi akang mau wawancara saya ya..,” katanya.
Selanjutnya perempuan kelahiran Jakarta tahun 1970 ini menceritakan suka-dunya-nya bekerja sebagai tukang parkir. Sebelum terjun ke sana, ia pernah beberapa kali kerja serabutan dibidang lain. Namun setelah menjadi tukang parkir, ia seolah menemukan dunianya. Pakir telah meberinya keberkahan yang menurut ukuran keluarga Ida terbilang lumayan.
Dari hasil parkir, Ida bisa membiayai sekolah keempat anaknya. Anak pertama Riska, 19, duduk dibangku SMA, anak kedua Angga, 17, di SMP, ketiga Afdhal, 15, di SMP, dan sibungsu, Rahmat belum sekolah.
Ida mendesain anak-anaknya agar bisa menjadi manusia cerdas sarat pendidikan tinggi. Bagi Ida, terjun ke dunia kerja serabutan cukup ia dan suaminya. Keempat anak-anaknya kelak harus menjadi orang terpandang. Karenanya, Ida sekuat usaha memenuhi segala kebutuhan sekolah anak-anaknya. “Cukup kami orang tuanya yang jadi orang susah, anak-anak harus menjadi orang sukses,” katanya.
Ida sering menekankan kepada anak-anaknya agar tidak malu memiliki ibu seperti dirinya. Apa yang ditekankan Ida, dituruti sang anak. Malah kalau dirinya bercerita demikian, anak-anaknya kerap mencucurkan air mata, tanda terharu. “Mamah jangan berkata begitu, kami bangga mempunyai ibu kayak mamah,” kata Ida menirukan kalimat si Sulung Riska yang beranjak dewasa tersebut.
Karena kenyataan itupula anak-anaknya jadi semangat belajar. “Alhamdulillah nilai sekolah anak-anak bagus. Membuat saya semangat bekerja,” ucapnya, dengan nada parau.
Sebagaimana tukang parkir lainnya, Ida juga melengkapi dirinya dengan atribut resmi dari Pemkot Bandung, yaitu seragam orange. Berapa penghasilan dia tiap harinya. Menurut Ida, penghasilanya mengalami fluktuatif, namun jika dirata-ratakan mencapai Rp 20 ribu perhari. Pendapatan ini sudah bersih dari potongan wajib tentunya.
Seperti halnya pedagang, tukang parkir juga ada waktunya maremanya. Ida sendiri mengalami marema, saat musim liburan. “Karena banyak bis pariwisata yang parkir di sini (Cikapundung, red), dan ongkos parkirnya juga lumayan besar,” ungkapnya.
Sekalipun hanya tukang pakir, obrolan dia bisa dibilang cukup intelek. Kalimat-kalimatnya mencerminkan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. “Saya berharap pemerintah bisa membangun sarana transportasi yang kayak di Eropa, sehingga tidak timbul kesemerawutan. Dan kami selaku tukang parkir juga pasti bisa menikmati penataan kendaraan dengan manajemen high,” terangnya, sepintas kaget mendengarnya. Selamat berjuang Ibu!!!(*)
