Derita Siadiah ,7, yang kulitnya melepuh gara-gara diserang penyakit Stepen Jhonson Syndrome menggegerkan masyarakat. Berita ini sungguh menakutkan. Bagaimana tidak, derita Siswi Madrasah Ibtidaiah (MI) di Kota Depok ini ditengarai setelah menjalani imunisasi sebelumnya. Lantas apa dan bagaimana Stepen Jhonson Syndrom itu? Dr Kusnandi Rusmil, SpA(K) dari Rumah Sakit Hasa Sadikin (RSHS) Bandung mengurainya.
Dr. Kusnandi Rusmil begitu hati-hati menjelaskan seputar Stepen Jhonson Syndrome, saat ditemui di ruang kerjanya di RSHS kemarin (25/2). Maklum, ada banyak istilah asing terkait penyakit yang ‘ganas’ tersebut. Kusnandi yang juga Wakil Ketua Ketua Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) ini khawatir, informasi yang diberikannya tidak dipahami secara tepat, akibatnya bisa menyesatkan masyarakat. “Ini urusannya medis, salah-salah bisa brabe,” katanya menegaskan.
Stepen-Jhonson syndrom merupakan suatu kumpulan gejala klinis erupsi mukokutaneus yang ditandai oleh trias kelainan pada kulit vesikulobulosa, mukosa orifisium serta mata disertai gejala umum berat. Sinonimnya antara lain : sindrom de Friessinger-Rendu, eritema eksudativum multiform mayor, eritema poliform bulosa, sindrom muko-kutaneo-okular, dermatostomatitis. Setepen Jhonsonm sukar ditentukan dengan pasti, mengingat penyebabnya berbagai faktor, walaupun pada umumnya sering berkaitan dengan respon imun erhadap obat. Beberapa faktor penyebabnya antara lain: infeksi (virus, jamur, bakteri, parasit), obat (salisilat, sulfa, penisilin, etambutol, tegretol, tetrasiklin, digitalis, kontraseptif), makanan (coklat), fisik (udara dingin, sinar matahari, sinar X).
Kusnandi melanjutkan, penyakit Stepen Jhonson Syndrom ini sebenarnya bukan merupakan penyakit anyar. Penyakit ini kali pertama ditemukan oleh Stepen Jhonson sekitar tahun 50-an. “Mungkin karena relatif jarang yang menderita, jadi terkesan penyakit baru,” ujarnya.
Lantas ia menceritakan juga, berbagai upaya pencegahan penyakit ini. Salah satunya dengan mendirikan lembaga Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Lembaga ini bersifat independen, dan sarat profesionalisme. “Kami di KIPI berupa membantu pemrintah dalam mencegah serta menanggulangi penyakit Stepen Jhonson Syndrom. Kami akan merespon terhadap semua keluhan dari masyarakat pasca imunisasi,” terang alumnus Fakultas Kedokteran Unpad tahun 1976 ini.
“Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) merupakan factor risiko yang selalu ada pada setiap tindakan medik imunisasi Polio namun dari pengalaman jumlahnya sangat kecil (1:2-6 juta dosis),” tambahnya.
Terkait kasus yang menimpa Siadiah ,7, di Kota Depok, KIPI Jabar mengirimkan dua anggotanya, yakni dr. Neli dan dr. Mirna. Temuan tim menyatakan, bocah tersebut mengalami panas tinggi sampai kulitnya mengelupas beberapa hari setelah diimuniasi. Kemudian dia berobat pada seorang mantri kesehatan setempat. Kemungkinan obat inilah yang menyebabkan SJS tersebut.
Saat disinggung jumlah penderitan penyakit ini di Jawa Barat, Kusnandi mengaku tidak hapal. Namun yang jelas, jumlahnya banyak. “Pokoknya RSHS sudah banyak menangai penyakit ini,” ucapnya.
Terakhir ia mengungkapkan, tanda yang mudah dikenali serangan penyakit ini, terjadinya luka bakar di tubuh, dan tak jarang menyebabkan kematian. (*)

bisa nggak bantu saya utk temukan alamat dr. kusnandi rusmil Spa, dari teman lamanya yut , yg pernah dinas di lusuk sikaping – pasaman – sumbar
Komentar oleh yutiardy rivai — September 15, 2009 @ 1:25 am
InsyaAllah, saya kirim no hape beliau. tapi, via imel. mana imelnya. tk
Komentar oleh hallouwa — September 28, 2009 @ 10:43 am