Peristiwa Heroik Lawan Penjajah, Berharap Bangkitkan Patriotisme Generasi Muda
Pernyataan Dede Yusuf terkait rencana pembuatan film Bandung Lautan Api (BLA) bukan wacana belaka. Wakil Gubernur Jabar yang juga bintang film laga ini benar-benar ingin mewujudkannya. Konsultasi dengan insan perfilman sudah dilakukannya, bahkan biaya pembuatan mulai dianggarkan.
Menemui Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf di tengah-tengah kesibukannya menerima beberapa orang menteri dari Jakarta, bukan hal gampang. Maklum ia harus tetap di ruangan menemani tamunya itu. Radar Bandung baru bisa menemuinya, sekitar pukul 15.30 kemarin, seusai sang menteri berpamitan pulang.
“Apa yang mau ditanyakan?” tanya dia dengan nada lelah.
Saat mengetahui pertanyaan itu adalah rencana pembuatan film BLA, ia tampak semangat. Dede menjelaskan, ide pembuatan film BLA itu datang darinya. Peristiwa BLA yang menurut sejarah sebagai salah satu peristiwa heroik melawan penjajah Sekutu Belanda. Itulah yang mendorong pemikiran Dede mulai mewacanakan pembuatan film BLA tersebut.
Motivasi lainnya, sebagai keturunan Sunda Dede mengaku mempunyai tanggung jawab moril terhadap sejarah para leluhurnya. Terlebih kini, ia sebagai salah seorang otorisator di Gedung Sate.
“Saya ingin memanfaatkan momen ini untuk melahirkan karya nyata bagi masyarakat, salah satunya adalah membuat film Bandung Lautan Api yang diharapkan bisa membangkitkan patriotisme generasi mendatang,” ungkap Dede.
Sebagai bintang film, Dede paham betul apa yang harus ia lakukan. Setelah sempat melaporkan ide ini kepada Gubernur Ahmad Heryawan, langkah berikutnya adalah mengumpulkan gagasan yang hendak ditampilkan dalam alur film nanti.
Bagi dia pengumpulan gagasan jauh lebih penting ketimbang urusan lainnya. Gagasan itulah yang memberikan gambaran untuk menentukan spot film.
Nah, untuk menemukan gagasan-gagasan itu, pihaknya akan mengumpulkan akademisi, para pelaku sejarah yang masih ada, dan melengkapinya dengan literatur yang ada saat ini.
“Untuk membuat film yang bercerita sejarah gampang-gampang susah. Kita harus melihat respon dari masyarakat juga,” tuturnya.
Dede juga mengaku mulai menghitung biaya produksi film tersebut. Sekalipun ia adalah pelaku perfilman, tapi soal perhitungan biaya, lanjutnya, kurang mengusai penuh. Karena itu, ia akan sonding dulu ke insan perfilman sekaligus dengan rumah produksinya.
Untuk itu, dalam waktu dekat ia akan ke PT Kharisma Jabar Film di Bandung. Perusahaan perfilman terbesar di Jabar ini adalah milik Chand Parwez Servia salah seorang sineas papan atas. “Perkiraan awal, kerja sama akan dilakukan dengan PT. Kharisma Jabar Film. Lagian kita juga sudah dekat dengan bosnya, yaitu Chand Parwez Servia,” ungkapnya. (*)
.
