Wagub Jabar, Dede Yusuf, Pencetus Film Bandung Lautan Api (2-habis)

Sowan ke Pelaku BLA, Masih Bingung tentang Format Film

dede-yusuf_f_695_f_337FILM Bandung Lautan Api (BLA) yang rencananya diproduksi tahun ini masih belum sampai pada penetuan format. Apakah menjadi film dokumenter yang merepresentasikan semangat juang warga Bandung, komersial, atau dokumenter yang komersial.

Memproduksi sebuah film tentunya bukanlah pekerjaan yang gampang. Terlebih jika film tersebut mengambil latar sejarah perjuangan bangsa. Salah-salah menggambarkan sejarah masa lampau, bisa menyesatkan persepsi masyarakat tentang kejadian yang sebenarnya di kala itu. Kemungkinan lainnya bisa saja digugat atau diprotes pihak yang merasa dirugikan karena jalan ceritanya yang parsial.

Menyadari hal itu, pencetus film BLA Dede Yusuf sangat teliti dalam mengumpulkan semua gagasan terkait rencana produksi film itu. Karena itu, Wagub yang juga artis beken di eranya itu mengaku akan segera sowan kepada para pelaku BLA yang masih hidup.

Dede percaya, keterangan pelaku jauh lebih akurat. ’’Ada beberapa tokoh BLA yang masih hidup. Dan beliau-beliau itu akan kita libatkan dalam proses pengumpulan bahan cerita film,” ungkap Dede.

Terkait rencana pembuatan film ini Dede telah berkonsultasi dengan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. Sekalipun – kalau urusan film ia lebih ahli ketimbang Heryawan, Dede mengaku butuh masukan dari gubernur. Apalagi rencana pendanaan film ini juga diambil dari APBD. Namun hingga kini belum sampai pada ketuk palu.

Pun demikian, Dede juga telah merapat ke DPRD Jabar. ’’Tapi sifatnya baru ngobrol-ngobrol biasa saja. Saya lihat mereka respon banget dengan rencana itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut Dede mengungkapkan, dirinya masih kebingungan menentukan format film BLA. Bagaimanapun sebuah film harus diterima pasar dengan baik. Selain memberikan fungsi menghibur, film juga harus mendidik masyarakat.

Tiga alternatif format film BLA sudah ada dibenak Dede. Itu adalah film dokumenter, komersial, dan dokumenter yang komersial. Kecenderungan yang akan diambil adalah yang berformat dokumenter komersial.

Kenapa? Film BLA harus bisa menggairahkan dunia perfilman Tanah Air. Sebagai seorang pelaku, Dede mengaku bertanggung jawab secara moril untuk memajukan dunia perfilman. Sedangkan soal dokumenter, jelas BLA merupakan sejarah perjuangan rakyat Bandung melawan kolonial.

Dede menginginkan film BLA nantinya bisa merepresentasikan perjuangan warga Bandung khususnya, dan Jawa Barat umumnya. ’’Sebagai orang Sunda, saya mau banget, kalau film BLA itu mampu menggambarkan bagaimana orangtua kita dulu berjuang,” terangnya.

(*)

Tulis sebuah Komentar