Tak muluk-muluk mauku. Biasa aja,sebagaimana umumnya. Kalimat ini benar-benar merasuki jiwaku, setelah belajar kehidupan selama 25 tahun lamanya. Ternyata hidup itu ada fasenya, dan tak ada yang paling indah kecuali berjalan difase semestinya. Setidaknya itulah pikirku saat ini.
Mauku itu kenyamanan. Bisa nyaman tentu tak melulu kasat mata ukurannya, kehidmatan berhubungan, kedewasaan, kesamaan visi misi barangkali itulah yang paling utama. Artinya, aku tak lagi mencari sestau di batas kemampuan.
Sekalipun kerap kali-dulu- aku selalu berujar, tak mungkin aku melakukan sesuatu yang batinku tak sreg atas sesuatu itu. Tapi, itu dulu. Kini ceritanya jadi lain, lebih menyandarkan pada rasio. Mau tak mau, suka tak suka, jika itu memang terbaik untukku ya harus diambil, dijalankan dan disyukuri. Itu saja beres!.
Ah, hidup memang ada masanya. Menang dan kalah, tergantung dari mana memandangnya. Tangis dan senyumpun tergantung hasratku. Kalau mau menangis sedih jalan seperti anu, mau tersenyum jalannya seperti anu. Jalan hidup dengan bingkai fikroh yang benar, selalu menemkan jalan yang benar itu; begitulah aksiomanya.
Aku mau, menjadi yang terbaik untuk rasa ini, rasa yang tuma’ninah ditaburi keberkahan. Namun, akupun tak harus berbohong, jikalau dada sering sesak melihat realita yang tak nyambung dengan mauku. Hanya bersandar pada keyakinan hakikilah, rasa nerima itu kudapati. Dengan catatan, segela yang diraih dilalui usaha yang tak sederhana. Ya, memang kewajibanku-manusia- hanya sebatas usaha. Hasil ada pada wilayah Robbi.
Soal mauku lagi. Aku mau nyaman, dengan apa yang kuraih sekarang. Aku hanya minta, bersikaplah sebagaimana mestinya. Jika saja, kerap kali menceritakan orang sukses di hdapannmu, itu semata karena pembelajaran. Bahwa kita memang selalu harus belajar dari masa lalu, bagaimanapun jalan masa itu. Kelam, ya kelam..cerah ya, cerah, tetap keduanya jadi pelajaran.
Memang aku bukanlan lelaki sempurna, tapi aku selalu berniat untuk mewujudkan kesempurnaan, dengan segala potensi yang ada. Makanya dibanyak kesempatan, aku selalu bercerita padamu: soal keberhasilan orang lain, kesalehan orang lain yang tentunya pantas dijadikan pelajaran.(*)
wallahu’alam…
September 2, 2009
kurang lebih seperti…
No Comments Yet »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
