Tangisan kami pecah saat mendengarkan kali pertama jagoanku menyapa dunia. Menyapa dengan tangisan nyaring, indah, dan menentramkan batin. Ya, jagoanku menyapa kami setelah hampir 13 jam menyanggong di mulut rahim istriku yang cantik. Selama menunggu kehadirannya, tingkah kami adalah harapan, bahasa kami adalah munajat kepada yang Maha Kuasa. Kami tak mau berada dalam kehampaan, berharap-harap cemas.
Kami berjuang keras mengintegrasikan semua pikir ke dalam keyakinan tauhidi. Bahwa kami adalah ciptaan Tuhan dan melahirkan jagoanku ada pada wilayah Tuhan. Tugas kami hanya memperbesar variabel kesuksesan saja, selebihnya diserahkan pada Rabb.
Jagoanku mulai mengetuk mulut rahim pada pukul 2 dini hari. Itu ditandai keluarnya cairan yang sesuai dengan tanda-tandanya. Sekitar pukul 8.10 saya, istri, seorang teman menuju tempat persalinan Aneu Cherawaty di Jalan Bima Pajajaran Bandung.
Setelah didiagnosa, ternyata benar jagoanku sebentar lagi mau lahir. Berselang beberapa menit, sejumlah saudara, kerabat datang membawa semangat dan do’a. Bahkan sebagian besarnya turut membantu proses persalinan di tempat persalinan milik keluarga kami itu.
Setelah sekian lama menunggu, tepat pukul 16.05 WIB jagoanku lahir menyapa dunia. Jagoanku memiliki berat badan 3,2 kilogram, dan tinggi 51 cm.
Mendengar sapaannya itu, kami hanya bisa menangis bahagia. Kami kaku ditandai tatapan keheranan. Kami merasa belum percaya dengan peristiwa yang menegangkan dan diakhiri keajaiban itu. Status kami kini berubah menjadi orang tua sang jagoan. Kami menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Selamat jagoanku!
Subhanallah, sepertinya Bapaknya yang justeru menyapa dunia ya?
eh om dudi..aku loh om yg nyapa dunia waktu itu untuk yg pertama kalinya. kalau abah prabu sih sudah sejak lama menyapa bahkan beteriak kpd dunia..salam, anaking prabu alandra badr