DAGO BARAT | |sekedar kata-kata sumbang

Desember 5, 2007

dy ::

by hallouwa @ 6:36 am

*kita memang beda, kecuali soal cinta*

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui, Apakah kau masih selembut dahulu, memintaku minum susu dan tidur yang lelap, Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipismu turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mandalawangi, kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram,
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin,
Apakah kau masih membalaiku semesra dahulu, ketika ku dekap, kau dekaplah tapi mesra.
Lebih dekat. Apakah kau masih akan berkata, kudengar detak jantungku
Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta..

=========

Untuk kamu-kamu, neng-neng, dinda, cinta dan sayangku>>

Asalamu’alaikum wr wb..

wahai kawan masa lalu, apakah suatu kebaikan kalau kita masih tetap bisa akrab? Kalau jawabannya memang mudarat, tanpa harus ragu, katakan saja tidak!! Karena bagaimanapun bahasanya, semua kita menuju ke suatu titik yang namanya kebaikan atau keburukan. ini tergantung maunya kita.

hanya perlu dikatakan, diutarakan, aku sendiri memaknai keakraban antara kita adalah suatu kebaikan. bisa jadi sebagai wahana evaluasi atau introspeksi diri. aku merasa heran saja, kalau kau tidak lagi membuka ruang hati untuk mengeli aku lagi. Padahal semut saja tahu, kalau di masa lalu kita adalah sebuah paket kehidupan. paket, dimana kita terkunkung pada sebuah perasaan saling memiliki, saling mengharap dan salng ketergantungan. ini fakta. awas jangan sampai berbohong untuk urusan ini.

kamu yang telah menikah, kamu yang mau menikah atau yang sedang dalam penjajagan untuk ke arah situ, jangan pernah kebaikan itu dilupakan. aku memang bukan siapa-siapa, ketimbang pasangan kamu kini. Dan juga sebaliknya, kamu bukan siapa-siapa lagi, bagiku dalam arti gumulan cinta. kamu, aku adalah saudara yang harus saling menyayangi dalam artian lain.

untuk ea kasih atas setitik perhatiannya. untuk zs kamu adalah jembatannku menuju kehidupan baru yang lebih nekad. untuk ef adalah palu godam yang membangunkanku dari mimpi yang menjadikan aku terjaga dan sadar, kukenali diri ini sepenuhnya. untuk semua perempuan yang pernah aku cinta dan berbalas cinta. terima kasih, kamu adalah mozaik dari keseluruhan hidupku. dan untuk kamu yang aku cintai hanya dalam hati saja, kamu adalah bagian dari pembakar semangat dan belajarku.

Khusus untuk calon istriku, tentu kamu adalah hidup dan matiku. kamu adalah kunci surga yang dititipkan Allah padaku. tak bisa ditawar-tawar lagi, kehadiranmu harus memberi makna akan kebahagiaan sejati yang menjadi dambaan semua mahluk. segala hal mengenai masa laluku, bukan tamparan atas cinta ini.

hanya Allah yang maha benar dan kepada Allah kita meminta pertolongan.
wassalam…

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kabar itu neng>>

Heh…

nuhun atuh upamai parantos ngarabi mah. eta pisan anu diharepkan.

Cuma saja, aku heran, kenapa aku tidak mengetahui hari bahagia itu. padahal, aku sendiri, pastinya bahagia dengan maklumat itu. sejak di BSM, ketika masuk ke book store, ketika makan di simpang raya, terucap, Ya, kalau memang cut itu, kita tetap baik, toh bukan kemauan, melainkan pengabdian pada orang tua”, tapi kenapa gilirannya jadi beda.

adalah tujuh malam dua bulan lalu, ketika gelisah menghampiri jiwaku. aku tak banyak tahu, tentang apa yang sebenarnya terjadi di belahan bumi lain, ada suatu peristiwa maha agung yang karenanya burung bernyanyi, mentari tersenyum, dan malaikat bersalawat atas nabi. aku hanya termenung di sebuah ruang yang sederhana, milik teman kuliah. dalam hampa, coba ku raba-raba. ingat kamu, aku bertanya. why?

kucoba tarik selimut, tapi gerah. kumandikan tubuh ini, tetap saja hareudang. why? berdo’alah padaNya. kudapati kabar itu lewat mimpi. subhanallah. maha agung Allah.

selang tujuh hari, kabar itu datang lewat SMS. ‘apakah kamu tahu, dia sudah nikah seminggu lalu, kamu datang nggak?

ku jawab tidak tahu-tahu acan.

padahal niatan selalu lebih baik, dari sebelumnya. tanggal 19 februari saja masih ingat sebagai hari lahirmu. bukan basa-basi kalau selanjutnya, ku ucapkan selamat. hanya kuduga, semua itu bisa salah makna, gara-gara mindset yang berubah akan diri ini. sampai sampai beberapa pekan berikutnya, nomor itu lenyap entah ke mana. kenapa sih neng, kok begitu?

terlepas dari semua itu, selamat atas anugerah itu ya…

allah bersama kalian.

====================================================================

<<Untuk si penghina

Heh kawan, terima kasih atas semua cibiran yang telah kau alamatkan kapadaku. Sungguh saya tidak merasa jengah apalagi bete, kalau mendapat tamparan penghinaan dari Anda. Justeru, kau telah memberikanku sebuah energi untuk lebih maju dan berkembang. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Anda yang suka merendahkan diri ini. Jazakalloh khairon katsirooo

—————-

HAI kawan (saya tidak menganggap anda musuh), kenapa anda begitu tega berkhianat padaku. Masih kah anda ingat, ketika saya mengajak anda untuk membesarkan organisasi. Anda tanpa ragu mengangguk tanda setuju. Saya senang dengan respon anda tersebut.

Anda pun memperlihatkan gelegat yang baik. Anda begitu respon, dan mungkin sangat menurut pada saya. Menurut di situ, pastinya bukan karena saya atasan anda, tetapi karena kenyambungan, dan kedekatan anda dengan saya. Saya respek sekaligus bangga dengan sikap demikian itu. Sampai pada gilirannya, ada sebuah kegiatan organisasi, anda termasuk yang paling terpuji, dimata saya. Anda tampak rela bekerja, tanpa banyak bicara, apalagi sampai protes. Anda begitu patut dijadikan acuan bagi anggota organisasi yang lain.

Menjadi tidak aneh kalau hati saya tentram dengan sikap anda saat itu. Di mata saya juga beberapa pengurus teras organisasi, anda termasuk ‘peluru’ bagi organisasi. Anda pekerja sebuah media massa kenamaan. Nama anda, adalah harga jual organisasi. Paling tidak, itu pertimbangan saya mengajak anda.

Aneh. Sungguh aneh, berikutnya, sikap anda begitu kontras. Begitu egois, sembari egois yang irasional. Kawan. Perhitungkan saya. Kamu kenali saya seutuhnya. Jangan sampai membuat manuver yang konyol, menjijikan. Kampring tau!!!. Sampai-sampai anda merencanakan gerakan tidak terpuji. Anda hembuskan, hal-hal memalukan, kepada teman-teman organisasi. Anda cekoki, beberapa orang dengan fitnah murahan. Lantas anda sampaikan, bahwa telah terjadi krisis kepercayaan orang banyak terhadap saya. Padahal telinga saya ada dimana-mana (bukan sombong kawan, astagfirulloh) Anda katakan, sebaiknya diadakan muslub, untuk menggeser saya di organisasi. what is that??

Masihkan anda ingat, akan ucapan saya, organisasi akan terukur dengan waktu. Dan saya katakan pula, waktu akan menyeleksi manusia-manusia. Mana yang benar se-visi, dan mana yang berlainan. Organisasi yang saya pimpin ini murni organisasi idiologi, bukan profit. Meskipun mungkin, bisa dijadikan ladang untuk mengeruk duit, tapi itu bukan lagi pada pranata organisasi. Dan ini yang demikian itu, akan saya kembalikan ke diri masing-masing orang. bahasa NU-nya ibda binnafsik.

Anda Tanya saya soal uang organisasi, yang mana saya tidak memegangnya sebagaimana tuduhan anda. Jutaan?. Belasan juta ?. Uang darimana kawan?. Pikir kawan dengan otak jernih. Tanya saya baik-baik, jangan lantas teriak. Jaga harga diri anda, dari pandangan saya yang mungkin mengecilkan anda, akibat ketolonan yang anda lakukan itu. Cerdik sedikit kawan.

Masih seputar uang, kenapa pula anda katakan kepada forum, bahwa anda uang ‘pemberian’ itu atas usaha anda. Dan saya menerima komisinya. Sial, kawan. Tuhan tentunya tahu, waktu itu, sayalah orangnya yang mendatangkan uang itu. Jangan bohongi nuranimu kawan, karena anda sudah dididik oleh waktu dan pengalaman orang-orang bijak.

Kenapa anda terus desak saya untuk mengklirkan persoalan itu, padahal waktunya saja nggak ada. Sehabis kegiatan, pertemuan batal digelar, lantaran kawan kita yang lain sibuk terhalang liputan malam.

Empat hari berikutnya, kita berangkat ke Jogja. Pulang dari Jogja, saya berurusan dengan kantor saya. Saya dianggap indisipliner. Padahal saat itu saya sedang libur. Beberapa hari berikutnya, saya digeser di kantor kawan. Tidakah anda tahu itu kawan. Bagi saya, itu biasa saja. Ini dinamika kerja kawan.

Nah, beberapa malam berikutnya, kita baru bisa kumpul. Maksud saya, sebagai ketua, kumpul itu membahas hal-hal secara terhormat. Tapi, malah anda membuka rapat sendiri, padahal saya saja tidak meminta anda melakukan itu. Apakah anda tahu etika berorganisasi kawan? Siapa anda dan apa posisi anda, sedimikan berani mendahului saya, tanpa basa-basi. Pantaskan itu kawan. Hei, saya ini bekas ketua orientasi mahasiswa, pengurus BEM, ketua Rohis, ketua IKA. Saya lumayan tahu, bagaimana berorganisasi. Saya jadi berpikir, jangan-jangan, saat kuliahmu dulu, belum pernah terlibat organisasi. Jangan-jangan hanya datang, ke kampus, belajar. Itu saja. Aduh kawan jangan kembali salah tafsir atas fakta relita saya di atas.

Dan saya tidak bermaksud memberikan penilaian bukan-bukan pada yang demikian. Tapi, saya mengingatkan anda untuk hati-hati dengan orang-orang yang anda anggap rendahan, termasuk dengan saya.

Akhirnya saya harus bertanya pada anda kawan. Sudah mempersiapkan apa saja, untuk menghadang saya kawan. Sudah meninventarisir kesalahan saya yang mana saja kawan, untuk anda jadikan senjata menghujam saya dimuka umum?.

Apakah anda akan tertawa renyah, bila saja saya kolaps atas ulahmu itu. Apakah anda akan bahagia, kalau saja aku ini apes ?

Kawan sejujurnya, sebagai manusia sama seperti anda, tentu ada saja kesalahan yang saya lakukan. Saya juga memiliki rasa takut, khawatir, malu dan sebagainya, dan ini juga pasti anda rasakan pula.

Jika saja anda keukeuh dengan sikap tersebut, sungguh yang demikian itu pengecut sejati. Tapi, silahkan saja kawan, antar egomu, hadapkan pada realita alam. Adakah yang melawan hukum alam bisa mengang? Baca ribuan literatur, ratusan pakar, cari tentang yang demikian itu. Jawabannya, pasti semua roda berjalan berdasarkan hukum alam. sunatullah bahasa agamanya. bukan begitu kawan.

Namun demikian, saya tidak mempunyai kekuatan untuk menghentikan semua asa dan rencana Anda, maka dari itu lakukan saja semua rencanamu itu, dan tunggu apa yang terjadi dengan Anda kawan.

Saya tidak akan mundur dari kebenaran, barang sejengkal. Saksikan itu kawan!!! Mati, tidak bisa mundur, juga maju.!!!

Cukup Allah menjadi tempat meminta pertolongan dari orang-orang dholim.

Astagfirulloh…

Allahumangfirlahu warhamhu wa’fihi wa’fu anhu.

Saya, Uwa

& Komentar »

  1. tampaknya, ini pengalamannmu ya..?

    Komentar oleh rina — Desember 5, 2007 @ 6:52 am

  2. membaca tulisan anda, jadi teringat pengalaman sendiri…uy..

    Komentar oleh Iwet smi — Desember 5, 2007 @ 6:53 am

  3. sp nehhh..seseorang tu?

    Komentar oleh fie — Februari 17, 2008 @ 9:20 am

  4. mau tau ajah..

    Komentar oleh uwa — Agustus 30, 2009 @ 2:36 pm

  5. mnurutku kurang kata2nya klau bsa smbl nyindr orang yg ga pnya prasan kpda se2orang (curht) euy dikit

    Komentar oleh satrya — Oktober 6, 2009 @ 8:35 am

  6. kalau menurutku, kata-kata uwa itu dah bagus. lagian, tulisannya lebih bersifat pribadi…jadi apa adanya saja.

    Komentar oleh Ibro — Oktober 11, 2009 @ 12:12 pm


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Didukung oleh WordPress.com